Pertama, aku duduk bersila di lantai, meletakkan tongkat di sampingku. Lalu, aku mengambil kristal infus berlabel “Staff Skill” dan menggelindingkannya di telapak tanganku, mengamati partikel-partikel biru berputar di dalamnya.
Setelah ragu sejenak, aku memutuskan untuk mencobanya dan menghancurkan kristal itu di tanganku.
Partikel-partikel yang berputar itu berkedip-kedip sebelum menyerbu langsung ke kepalaku.
Pandanganku menjadi gelap sesaat, dan ketika cerah, aku mendapati diriku berdiri di atas gelombang lautan.
Awan gelap menjulang di atas kepala, membentang tanpa henti di angkasa.
Laut di bawahnya gelisah, permukaannya naik dan turun seperti binatang hidup.
Rasanya seperti badai akan datang, dan lautan sedang bersiap menghadapinya. Lalu, mataku tertuju pada sosok yang kukira memiliki penglihatan ini, seorang perempuan, bukan manusia, melainkan sesuatu yang lain.
Dia berdiri di jantung semuanya, tidak tersentuh oleh kekacauan di sekelilingnya.
Rambutnya yang panjang dan berwarna perak berkibar di belakangnya, bergerak mengikuti arah angin, tetapi mata biru gelapnya tetap diam, tenang.
Kulitnya berwarna coklat tua, dan telinganya yang panjang dan runcing memberinya kesan seperti orang dunia lain.
Sebuah mahkota perak tipis bertengger di kepalanya, desainnya sederhana namun elegan.
Dia mengenakan jubah putih berkibar yang panjangnya mencapai pergelangan kakinya, diikat di bagian depan dengan gesper perak.
Di baliknya, ia mengenakan atasan biru tua yang pas badan, yang membiarkan bahu dan perutnya terbuka, dengan pola-pola perak sederhana di atasnya.
Bagian bawah tubuhnya terbungkus celana ketat berwarna gelap yang terbuat dari bahan kokoh, pas di kakinya. Sebuah sabuk perak melingkari pinggangnya. Pakaian itu dirancang khusus untuk bertempur, memungkinkannya bergerak bebas.
Di tangannya, dia memegang sebuah tongkat.
Bentuknya ramping, terbuat dari bahan hitam halus, hampir setinggi tubuhnya.
Garis-garis tipis perak meliliti tongkat itu, berputar seperti arus laut. Ujung tongkat sedikit melengkung, berujung tajam, sementara bagian bawahnya dilapisi tepi yang menebal, cukup kuat untuk pukulan yang menghancurkan.
Lautan bergemuruh, dan gelombang dahsyat muncul di hadapannya, menghalangi langit.
Dia menghembuskan napas perlahan.
Lalu, dia pindah.
Kakinya sedikit bergeser, menjejak kuat di permukaan air seolah-olah ia berdiri di tanah yang kokoh. Genggamannya pada tongkat semakin erat. Saat ombak menerjang, ia mengangkat tongkat itu dan mendorongnya ke depan dengan satu gerakan tepat.
Tak ada ledakan, tak ada benturan keras, yang ada hanya keheningan.
Saat tongkatnya menyentuh ombak, seluruh massa air lenyap. Sedetik kemudian, ia masih di sana, menderu dengan kekuatan yang tak terhentikan.
Berikutnya, ia lenyap, menguap tak bersisa. Hembusan angin kencang menyusul, menyapu lautan, membelah air sejauh bermil-mil.
Ombak lain muncul di belakangnya, sama besarnya. Tanpa berbalik, ia mengayunkan tongkatnya membentuk lengkungan yang halus dan menyapu. Ombak itu terbelah dua, kedua bagiannya menghantam tanpa membahayakan kedua sisinya.
Ombak-ombak lain menyusul, tak henti-hentinya membentuk dinding air yang menjulang tinggi, namun ia tidak goyah.
Dengan gerakan sederhana dan mudah, tusukan, sapuan, dan tusukan—ia menghapusnya satu per satu. Tak ada gerakan yang sia-sia, tak ada keraguan. Hanya kendali yang sempurna.
Ia melangkah maju, topi putihnya berkibar, rambut peraknya berkilau di bawah langit yang berbadai. Lautan mengamuk di sekelilingnya, tetapi tak berdaya.
Dia tak tersentuh.
Penglihatan itu berlanjut, dan saya memperhatikan dia menggerakkan setiap gerakan dasar tongkat itu.
Satu demi satu, ia memukul, menangkis, dan menghadang ombak, tak sekalipun membiarkan setetes air pun menyentuhnya.
Setiap gerakannya tajam, tepat, dan sempurna. Dan dia cantik.
Aku harus memaksakan diri untuk fokus pada staf, memperhatikan bagaimana dia bergerak, bukannya terganggu dengan kehadirannya.
Ada ritme dalam serangannya, keseimbangan sempurna antara kecepatan dan kekuatan. Saya hafal semuanya, mulai dari cara dia menggeser kakinya hingga cara dia menyesuaikan pegangannya sebelum setiap serangan.
Saya tidak yakin berapa lama dia bersikap seperti ini, tetapi kemudian sesuatu berubah.
Ombak berhenti berdebur. Lautan menjadi sunyi senyap. Awan gelap di atas tak lagi bergemuruh. Hanya angin yang tersisa, berbisik di atas air.
Dia menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun.
Lalu ia menggeser pegangannya pada tongkat itu, sedikit menurunkan posisinya. Saat itu, aku merasakannya, sebuah kekuatan yang tak tertandingi sebelumnya. Kekuatan itu meledak darinya bagai gelombang kejut, beriak di udara, membuat lautan bergolak liar di bawahnya.
Lalu dia melompat.
Lautan di bawahnya runtuh, membentuk kawah yang dalam, sebelum meledak dahsyat. Ia melesat ke angkasa, tongkatnya berputar di atasnya dengan kecepatan yang menyilaukan. Dalam pandanganku, semuanya menjadi kabur, tak lebih dari sekadar garis gerakan.
Di puncak lompatannya, ia menangkap ujung tongkat paling bawah hanya dengan tangan kanannya. Seluruh lengannya bersinar dengan cahaya biru yang menyilaukan, energinya mengalir deras melalui genggamannya.
Lalu dia meraung.
Dengan ayunan satu tangannya, dia mengayunkan tongkat itu ke bawah dalam lengkungan besar di atas kepala, bukan ke arah laut, tetapi ke arah udara itu sendiri.
Ledakan.
Ledakan.
Ledakan pertama merobek udara, mengirimkan gelombang kejut ke luar. Ledakan kedua menyusul sesaat kemudian, dan seluruh lautan seakan runtuh ke dalam. Airnya terkompresi, menyusut, menyempit, hingga tak mampu lagi menahan dirinya—
Lalu meledak.
Ledakan dahsyat air melesat ke langit, pecah menjadi tetesan-tetesan air yang tak terhitung jumlahnya, lalu jatuh bak badai.
Di bawahnya, tak ada yang tersisa kecuali kawah menganga di tempat yang dulunya merupakan lautan.
Dan di atas semua itu, wanita itu melayang, tongkatnya di tangan, tak tersentuh, tak tergoyahkan.
Lalu penglihatan itu berakhir.
Aku duduk bersila di lantai, tongkatku diletakkan di sampingku, jari-jariku meraba permukaannya yang halus.
Pikiranku terus memutar ulang bayangan itu. Bukan perempuan itu, bukan lautan itu, bukan pula kehancuran yang ditimbulkannya. Hanya tongkat itu. Cara dia menggerakkannya. Cara tongkat itu merespons cengkeramannya seperti perpanjangan tubuhnya.
Gerakannya sederhana, namun sempurna. Tak ada usaha yang sia-sia, tak ada gerakan yang tak perlu. Ia mengendalikan medan perang hanya dengan gerakan-gerakan dasar—dorongan, sapuan, tangkisan, putaran.
Melawan ombak yang menjulang lebih dari seratus kaki tingginya, ia tak panik atau ragu. Satu dorongan saja, airnya pecah. Satu sapuan sederhana, dan ombaknya terbelah. Ini bukan tentang kerumitan. Ini tentang kendali.
Lalu tibalah gerakan terakhir. Bayangan itu terpatri kuat di benak saya, bagaimana ia menggenggam tongkat itu dengan satu tangan, bagaimana lengannya bersinar, bagaimana ia mengayunkan tongkatnya bukan ke arah laut, melainkan ke arah udara.
Dan apa yang terjadi selanjutnya… Kekuatan hantaman itu telah memampatkan lautan, menghancurkannya sebelum membuatnya meledak menjadi kabut. Itu hanyalah kekuatan mentah. Seperti yang kusuka. Penggunaan kekuatan yang sempurna di saat yang tepat.
Aku menghela napas dan menatap tongkatku sendiri. Bisakah aku melakukannya?
TIDAK.
Belum.
Namun saya bisa sampai di sana.
Aku mengetukkan tongkat itu ke lantai, merasakan beratnya.
Dasar-dasarnya. Di situlah saya harus memulai.
Tujuan pertamaku adalah menjadikan tongkatku sebagai perpanjangan tubuhku. Itu berarti melatih setiap gerakan dasar sampai aku tak perlu memikirkannya lagi. Tusukan. Sapuan. Putaran. Tangkal. Jika aku tak bisa menghancurkan ombak dengan satu tusukan seperti yang dia lakukan, aku akan berlatih sampai aku bisa.
Adapun langkah terakhir…
Aku mencengkeram ujung bawah tongkat itu dengan tangan kananku, menirukan posisinya di kepalaku. Mengangkatnya ke atas. Mengayunkannya ke bawah. Aku mengulangi gerakan itu perlahan, merasakan mekanisme pukulannya.
Kecepatan. Kekuatan. Sudut. Dampak.
Saya akan membangunnya selangkah demi selangkah.
Pertama, kendalikan. Lalu, paksakan.
Aku mengepalkan jari-jariku pada tongkat itu.
Memang butuh waktu, tetapi aku yakin suatu hari nanti aku akan mencapai tingkat kekuatan yang sama, kekuatan untuk meluluhlantakkan lautan dengan satu pukulan tongkatku.