Emery menyadari keributan di luar dan merasa sudah waktunya untuk pergi. Para perampok itu teralihkan oleh kedatangan perampok baru yang membawa berita tentang seorang kesatria yang berada di luar. Jika memang demikian, tidak lama lagi pasukan kerajaan akan menyerbu rumah kumuh itu dan menangkap semua orang yang mereka lihat, kecuali mungkin Lanzo.
Dia segera berlutut di hadapan Lanzo dan berkata, “Kau akan aman sekarang. Aku harus pergi.”
“Tetapi-“
Emery hampir tidak mendengar apa yang dikatakan Lanzo sesudahnya karena dia baru saja melompat keluar jendela ketika terdengar bunyi sesuatu jatuh di lantai kayu.
Dia mendengar seseorang di dalam rumah kumuh itu berkata, ‘Jatuhkan senjata kalian dan menyerah sekarang!’
Yang segera terjadi kemudian adalah suara logam yang saling beradu dan raungan binatang buas yang memekakkan telinga. Emery mendengar betapa paniknya suara pemimpin itu saat dia berteriak, ‘Yvain, Sang Ksatria Singa’. Emery bergerak sedikit lebih jauh ke arah pepohonan tetapi pemandangan di dalam masih terlihat.
Dalam hatinya, Emery sedikit lega karena ia berhasil menyelinap pergi sebelum Yvain tiba. Ia yakin Yvain akan mengenalinya, meskipun separuh wajahnya ditutupi jubah bulu. Dan itu akan menjadi masa depan yang mengerikan baginya, jika ada orang lain di kalangan bangsawan yang tahu bahwa ia masih hidup.
Emery hendak berlari lebih jauh ke dalam hutan gelap itu ketika sebuah suara yang dikenalnya menarik perhatiannya, membuatnya menghentikan langkahnya. Dia diam-diam bersembunyi di balik pepohonan dan di sana dia melihat seorang wanita muda, mengenakan baju perang merah yang indah dengan lambang singa yang disulam di bahunya, berdiri di belakang beberapa kesatria.
Jantungnya berdebar kencang melihat Gwen dalam pakaian perangnya, dan sesaat ia merasa ingin menceritakan semua hal yang telah dialaminya, semua suka duka. Rasanya sudah lama sekali ia tidak berbicara dengan Gwen.
Sekali lagi, ia menggunakan bayangan pepohonan sebagai tempat berlindung dan bergerak mendekat untuk mencoba menguping mengapa mereka ada di sini. Ia terkejut dengan kata-kata yang keluar dari mulut Gwen.
“Kau bagian dari Crimson Fang, bukan? Kalau begitu, berarti kaulah dalang penyerangan ke kediaman Ambrose! Katakan padaku sekarang! Apa ada anak laki-laki bernama Emery? Apa kalian membunuhnya?” kata Gwen.
Jantung Emery berdebar kencang saat mendengar ucapan itu. Tanpa sadar, ia mengulurkan tangannya saat memori terpendam tentangnya muncul dalam benaknya, ‘Kita tidak bisa berteman lagi, Emery’. Kalimat itu membekukan seluruh tubuhnya, tidak bisa bergerak. Ia mengepalkan tinjunya, berpikir dalam hati bahwa ia harus menahan diri. Saatnya belum tiba.
Dia mundur dan tanpa sengaja menginjak dahan pohon yang sudah mati. Seorang kesatria menoleh ke arah Emery dan menghunus pedang sambil berjalan perlahan. Emery tahu dia telah mengacau. Dia seharusnya tidak tertangkap atau terlihat di sini. Tidak sekarang, terutama dengan Gwen yang ada di dekatnya!
Emery berbalik dan berlari secepat yang ia bisa; pikirannya dipenuhi dengan kata-kata Gwen, baik kenangan menyakitkan maupun pertanyaan mengapa Gwen mencarinya.
Dia tidak tahu seberapa jauh dia telah melarikan diri, tetapi paling tidak, dia yakin bahwa kesatria yang telah memergokinya seharusnya sudah berhenti mengejar sekarang. Saat dia merenungkan kata-katanya dan berdasarkan bagaimana suaranya, dia mencoba memikirkan setiap alasan yang dapat dia pikirkan secara logis, tetapi tidak satu pun dari alasan tersebut berhasil meyakinkannya. Namun, jauh di lubuk hatinya, sedikit kegembiraan muncul di dalam dirinya saat mengetahui Gwen mencarinya, meskipun sekitar dua musim telah berlalu, dan tidak peduli apa pun alasannya. Tidak ingin berpikir lebih dalam, dia meletakkan masalah itu di belakang kepalanya sekali lagi dan melanjutkan pelariannya.
Malam semakin larut dengan lapisan cahaya yang mengangkat tirai kegelapan, menyambut orang-orang kerajaan dengan hari yang baru. Lanzo tiba di penginapan, dikawal oleh para kesatria, ke tempat Jacob berada. Para kesatria sang Putri bahkan memberinya sekantong koin sebagai kompensasi atas kesulitannya.
Ketika Jacob keluar dari penginapan dengan pakaian tidurnya, keterkejutan di wajahnya tampak jelas saat melihat Lanzo yang ditutupi perban dari pinggang ke bawah. Lanzo tersenyum malu dan menjelaskan bahwa ia mengalami petualangan yang luar biasa malam itu. Setelah selesai berbicara dengan Jacob, Lanzo segera menggunakan koin itu untuk merayakan pengalamannya yang hampir mati dengan kecintaannya yang baru pada bir.
Emery turun dan memeluk Lanzo dengan hangat. Ia agak senang karena Lanzo tidak menaruh dendam padanya, tetapi ia tetap harus menolak tawaran Lanzo karena ia sedang tidak ingin minum. Pikirannya masih dipenuhi dengan pikiran tentang Gwen, dan setelah melihatnya sekali lagi, wujud barunya, serta melihat ilmu pedang Sir Yvain yang cepat, hasratnya untuk menjadi lebih kuat semakin membara. Pengalaman tadi malam adalah bukti bahwa ia masih jauh dari mampu bertahan hidup, apalagi membalas dendam untuk keluarganya.
Sejak kecil, ia selalu bermimpi menjadi seorang kesatria seperti Yvain dan mendiang ayahnya, Geoffrey, yang berjuang dengan gagah berani demi kerajaannya. Sayangnya, kondisi fisiknya tidak memungkinkannya untuk melakukan itu sebelumnya, tetapi sekarang, setelah menerima manfaat dari Magus Academy dan kemungkinan manfaat di masa mendatang, ia yakin bahwa ia akhirnya akan melampaui semua musuhnya.
Mereka menghabiskan satu hari lagi di Lionarch untuk memberi Lanzo lebih banyak waktu untuk pulih. Dan begitu hari berikutnya tiba, hanya Emery dan Jacob yang berdiri di depan kereta kuda. Mereka telah memutuskan sudah waktunya untuk pulang ke Mistshire, tetapi ketika mereka bangun lebih awal, Lanzo sekali lagi menghilang.
Setelah setengah jam menunggu, di kejauhan mereka melihat seseorang membawa bungkusan besar di punggungnya menuju ke arah mereka. Itu adalah Lanzo.
Si kakek Jacob mengerutkan kening lebar-lebar sambil berteriak, “Anak sialan! Kamu tidak terluka? Ke mana saja kamu?”
“Membeli beberapa barang untuk penduduk desa dengan sisa uang receh kemarin,” jawab Lanzo sambil tersenyum lebar, sambil meletakkan bungkusan itu di kereta kuda.
“Barang apa saja?” tanya Jacob sambil memeriksa bungkusan itu.
“Kau tahu… Hal-hal yang tidak dimiliki penduduk desa,” jawab Lanzo sambil tersenyum nakal.
“Apa-apaan ini, dasar ! Biar kutendang kau karena membuatku menunggu terlalu lama!”
“Tidak! Jangan! Ahh, kakiku, kakiku!” kata Lanzo, berpura-pura kesakitan lagi. Emery tertawa terbahak-bahak hingga tulang rusuknya terasa sakit sebelum meminta mereka berhenti.
Begitu keadaan tenang, mereka bertiga kembali ke Mistshire.
Dalam perjalanan, Lanzo tak henti-hentinya bercerita tentang barang-barang yang dibelinya untuk penduduk desa, khususnya tentang bagaimana ia membeli mantel rajutan khusus untuk Nenek. Emery mendengarkan Lanzo dengan saksama sambil mengasah pedang dengan batu asah dan memeriksa tasnya yang berisi tanaman sambil tersenyum.
Karena keberangkatan mereka yang terlambat karena kesalahan seseorang, kelompok dua anak muda dan seorang pria tua itu tiba di Mistshire ketika langit sudah gelap.
“Saudaraku, lihat! Bulan di langit!” seru Lanzo sambil menunjuk ke atas.
Emery mendongak dan menyaksikan pemandangan yang baru sekali ia lihat seumur hidupnya. Langit yang gelap tanpa bintang, hanya bulan merah tua, yang dikenal sebagai bulan darah, menghiasi langit yang kosong. Entah mengapa, jantung Emery mulai berdebar kencang di dadanya saat ia baru menyadari bahwa sekelilingnya juga tidak bernyawa. Ia kemudian menoleh ke arah Jacob yang juga tampak bingung seperti dirinya.
“Apa yang terjadi?” tanya Emery.
“Ini tidak benar… Aku tahu kita terlambat, tapi mengapa tidak ada seorang pun, bahkan para pemburu yang berjaga di gerbang? Mereka seharusnya tetap menunggu kita meskipun kita terlambat sehari!” Jacob menjelaskan.